Santapan Harian Air Hidup Kamis 5 Mei 2022, Kesuksesan Yang Sia-Sia

Header Menu

Santapan Harian Air Hidup Kamis 5 Mei 2022, Kesuksesan Yang Sia-Sia

Rabu, 04 Mei 2022

Santapan Harian Air Hidup Kamis 5 Mei 2022

Renungan Harian Air Hidup
Renungan Air Hidup Kamis, 05 Mei 2022



Kesuksesan yang sia-sia


Bacaan Alkitab hari ini: Pengkhotbah 4:7-16


Harta-Wanita-Takhta atau Kekayaan-Relasi-Kekuasaan sering dianggap sebagai ukuran kesuksesan seseorang. Dalam bacaan Alkitab hari ini, ketiga hal di atas dipaparkan oleh Pengkhotbah.

Namun, benarkah Kekayaan-Relasi-Kekuasaan merupakan ukuran kesuksesan? Sifat selfish adalah sifat mementingkan diri sendiri. Tanda dari orang yang bersifat selfish adalah ketidakpedulian terhadap perasaan atau kepentingan orang lain.

Sifat selfish ini merupakan penyebab timbulnya kejahatan dan bersifat memperbudak diri sendiri. Bila orang seperti itu menjadi raja, orang itu tidak akan mau menerima nasihat orang lain. Contoh orang yang memiliki sifat selfish adalah orang yang terus mengejar kekayaan, padahal dia sudah tidak memiliki tanggungan lagi (4:7).

Orang yang demikian akan sulit untuk mengucap syukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada. Pengkhotbah menjelaskan bahwa sikap selfish ini merupakan suatu kebodohan karena kekayaan yang dikumpulkan akan menjadi tidak berguna, bahkan kekuasaan yang dimiliki pun akan menjadi pudar.

Pengkhotbah mengingatkan bahwa lebih baik memiliki teman dekat daripada sendirian. Sepasang suami istri bisa menghangatkan badan dengan tidur berdua. Dengan saling membantu, mereka akan bisa mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri (4:9-12).

Tentu saja mereka harus saling menasihati dan saling mendengarkan. Pentingnya relasi ini kontras dengan raja yang tidak mau mendengar (4:13). Sekalipun miskin, kalau seseorang bisa membangun relasi yang baik, ia bisa menjadi berkuasa, apalagi kalau dia kaya.

Jadi, orang berhikmat akan memanfaatkan kekayaan untuk membangun relasi yang kemudian dipakai untuk membangun kekuasaan. Sepintas lalu, hal ini seperti membenarkan ungkapan “Harta-Wanita- Tahta” atau “kekayaan-Relasi- Kekuasaan” sebagai ukuran kesuksesan.

Akan tetapi, Pengkhotbah Mengingatkan bahwa bila kita hanya bersandar pada kekayaan, relasi, dan kekuasaan saja, akhirnya kita akan memperoleh kesia-siaan belaka (4:16). Ingatlah bahwa kekayaan-relasi-kekuasaan akan berlalu, tetapi kasih tidak berkesudahan (1 Korintus 13:8). Hidup kita harus tetap berpusat kepada Allah yang adalah Kasih (1 Yohanes 4:8).

Kekayaan-Relasi-Kekuasaan yang Tuhan percayakan adalah sarana untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Apakah Anda dikenal sebagai orang yang penuh kasih atau arang yang mementingkan diri sendiri?